Chat with me

Chat with me

Publications

Academic Activities

Visitor

136095
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
211
122
333
134300
5667
4896
136095

Your IP: 54.91.125.72
Server Time: 2014-12-29 14:32:35

Login Form

Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia

Apakah Indonesia pernah menentukan atau memilih suatu strategi pembangunan tertentu dan kemudian menerapkannya melalui berbagai kebijakan yang konsisten?  Jawaban terhadap pertanyaan ini mungkin cenderung  ‘tidak’, sama seperti yang dikatakan oleh Griffin mengenai kebanyakan negara-negara sedang berkembang lainnya. Berbagai kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia pada era pemerintahan Orde Baru pada dasarnya tidak didassarkan pada suatu strategi yang jelas yang dipilih secara sengaja.  Kalaupun ada, tidak ditopang dengan kebijakan-kebijakan operasional secara konsisten.

Secara sektoral, mungkin strategi pembangunan yang diterapkan secara konsisten dan berhasil adalah pembangunan di sektor pertanian padi sawah dalam kaitannya dengan upaya untuk mencapai dan mempertahankan swasembada beras.   Sedangkan dalam sektor industri, Indonesia lebih berat berkonsentrasi pada industri subtitusi impor dan barang konsumsi lainnya untuk pasar domestik.  Sedangkan industri berorientasi ekspor hanya terkonsentrasi pada sejumlah jenis komoditas yang terbatas antara lain produk-produk dari kayu dan tekstil.  Richard Pomfred (1997) mengatakan bahwa Indonesia dan juga Malaysia dan Thailand sama-sama menerapkan strategi subtitusi impor sejak awal 1970-an  tetapi pertumbuhan ekonominya lebih banyak didukung oleh sektor pertanian (agricultural-led growth) dan ekpor produk primer (primary export growth).  Baru pada pertengahan 1980-an  ekspor di negara-negara ini mulai didukung oleh labour-intensive manufacture industries.  Menurut Pomfret, Indonesia dan Malaysia membangun industrinya dengan melihat pada Korea Selatan sebagai model tetapi dengan micro economic intervention yang kuat untuk industri kebanggaan mereka (mobil bagi Malaysia dan kapal terbang bagi Indonesia)

 

Ada tiga pendekatan dalam pembangunan industri yang pernah diusulkan pada Jaman Orde Baru yaitu: (i) kelompok yang menginginkan agar industri Indonesia sebaiknya adalah industri yang memanfaatkan sumber/bahan baku domestik; (ii) industry yang berbasis tekhnologi tinggi yang dipelopori oleh Prof. B.J. Habibie, dan (iii) kelompok yang mengusulakn pengembangan industri yang mepunyai keunggulan komparatif.  Pendapat lain mengatakan bahwa industrialisasi yang berhasil di Indonesia seharusnya melalaui proses sebagai berikut: Pertama, industri asembling atau industri ‘tukang jahit’ dimana pada tahap ini harus terjadi proses alih teknologi.  Pada tahap ke dua, industri tersebut sudah harus mampu membangun atau menciptakan brand image dan mengukuhkannya.  Tahap ke tiga, peningkatan kualitas dengan harga yang bersaing disamping sudah ada perbaikan dalam aspek design dan atau estetika.  Tahap ke empat, mengembangkan R & D agar tetap bertahan dalam persaingan di pasar global. 

Kwik Kien Gie (1999) mengatakan bahwa  pola pembangunan industri di Indonesia yang katanya bersifat broad spectrum atau broad base, ternyata hanya menghasilkan industri-industri perakitan dengan ketergantungan tinggi pada impor.  Fenomena ini oleh Professor Akamatsu (Limlingan, 1999) disebut sebagai  flying geese strategy atau no-bariner strategy yang menggambarkan tentang masalah yang dihadapi sektor industri di negara-negara Asia karena mengekor atau meng-copy apa yang dilakukan Jepang sebagai pemimpin. Professor Akamatsu membuat analogi perkembangan industri manufaktur di Asia sebagai suatu formasi angsa terbang (flying geese) dengan Jepang sebagai angsa yang memimpin di depan.  Angsa-angsa yang mengikuti persis di belakang Jepang adalah Korea Selatan, Hong Kong , Taiwan dan Singapore.  Filipina, Indonesia, Thailand, Malaysia dan Brunei sebagai barisan ketiga dalam formasi tersebut dan baris keempat diisi oleh India, Cina. Bangladesh, Myanmar, Cambodia, Laos, Vietnam, PNG dan Sri Lanka.  Strategi industrialisasi yang dianut adalah export promotion industry yang didukung dengan upah buruh yang rendah. 

 

 

 

Strategi pembangunan ekonomi alternatif bagi Indonesia

 

            Potensi ekonomi Indonesia masih tetap didominasi oleh sektor pertanian dan industri manufaktur.  Apakah ada semacam kombinasi yang tepat dari berbagai strategi pembangunan ekonomi seperti yang dikaji Griffin untuk Indonesia?  Menurut pendapat penulis, kebijakan ekonomi seperti yang ‘dipaksakan’ oleh IMF – yang pada prinsipnya bernuansa neoclassic atau monetarist – adalah yang terbaik untuk Indonesia dalam jangka panjang.  Idealnya, campur tangan pemerintah minimal, hilang atau berkurangnya berbagai bentuk distorsi pasar dan market-diriven productive activities. Hanya saja, karena perekonomian Indonesia telah dibentuk dalam kondisi terdistorsi selama tiga dekade, maka  kebijakan apapun yang ditempuh tetap akan menimbulkan  berbagai dampak instabilitas jangka pendek.  Dosis instabilitas ini yang perlu ditimbang-timbang agar tidak melebihi kemampuan absorbsi masyarakat dan perekonomian Indonesia agar tidak menimbulkan persoalan baru.   Dengan demikian, dalam jangka pendek memang masih diperlukan intervensi pemerintah dalam usaha menciptakan suatu kondisi yang condusive  agar perekonomian dapat diarahkan untuk pada akhirnya dapat berfungsi melalui kekuatan mekanisme pasar.  Distorsi pasar seperti monopoli dan monopsoni harus segera dihilangkan.  Distor-distorsi seperti kebijakan subsidi BBM, subsidi pupuk, bea masuk gula pasir dan beras harus dihilangkan secara bertahap agar tidak memberatkan kelompok masyarakat berpendapatan rendah dan petani.  Selain itu, restrukrisasi secara bertahap juga memberi kesempatan kepada berbagai berbagai kegiatan produktif yang terkait untuk merencanakan dan mengadakan pengalihan investasi.

 

Selain itu, kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia ‘terpaksa’ harus secara sengaja berorientasi kepada kepentingan banyak orang.  Mereka ini adalah petani,nelayan dan buruh, yang masuk dalam kelompok 40 - 50 persen kelompok masyarakat berpendapatan rendah.  Konsekuensinya, pembangunan ekonomi Indonesia tidak bisa hanya mengejar tingkat pertumbuhan GDP.  Bahkan  perlu ditetapkan secara eksplisit berapa bagian dari target pertumbuhan GDP yang akan disumbangkan oleh kelompok masyarakat berpendapatan rendah tersebut.  Selain aspek ekonomi, bagi Indonesia saat ini, berjalan dan berhasilnya atau tidaknya strategi dan kebijakan pembangunan ekonomi juga sangat   ditentukan oleh faktor-faktor penting lainnya seperti : pemerintahan yang kuat dan bersih (clean and strong government), penegakan hukum (law envorcement) dan kestabilan politik dalam negri. 

 

Jika Indonesia ingin belajar dari pengalaman Korea Selatan, kita dapat berkonsentrasi pada upaya membangun faktor-faktor yang di Korea Selatan dianggap sangat berperan dalam kesuksesan industrialisasi di negara tersebut.  Professor Dong-Sung Cho (1997) dari Universitas Nasional Seoul mengembangkan model ‘berlian’ dari competitive strategy-nya Michael E. Porter untuk menemukan faktor-faktor apa saja yang menentukan keunggulan dalam daya saing internasional industri Korea Selatan. Diamond model (model berlian) dari Porter mengatakan bahwa daya saing internasional (international competitiveness) sebuah negara adalah faktor: (1) strategi, struktur dan sistem persaingan antar perusahan; (2) sumber daya  yang dimiliki oleh suatu negara; (3) permintaan domestik; dan (4) keberadaan industri terkait dan pendukung.  Disebut model berlian karena ke empat faktor tersebut disusun sedemikian rupa dalam satu kotak sehingga merupai bentuk berlian.  Faktor dari luar kotak yang juga sangat menentukan daya saing internasional suatu negara adalah faktor pemerintah serta faktor akses dan kesempatan.

Jika ke sembilan faktor tersebut dilihat dalam konteks Indonesia saat ini maka, mungkin dapat dikatakan bahwa dalam jangka pendek ini yang pasti dimiliki Indonesia adalah sumber daya (alam).  Delapan faktor yang lain masih perlu waktu pembenahan dan atau pengembangan lebih lanjut.  Dampak krisis ekonomi masih terasa dampaknya pada potensi permintaan pasar domestik serta pada dinamika dalam lingkungan bisnis dan berbagai industri pendukung.  Pembenahan dalam tubuh birokrasi untuk mengurangi praktek-praktek KKN masih akan memakan waktu lama.  Namun demikian, terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, Indonesia mempunyai potensi untuk memajukan ekonominya jika sembilan faktor yang dikemukakan oleh Dong-Sung Cho dapat difungsikan untuk bisa berperan secara optimal.

 

(Sumber : Artikel di sadur dari referensi yang sudah ada)

 

 

 

Sumber Acuan:

 

1.      M.P. Todaro, Economic Development, 6th. ed., Longman, London, 1997

 

2.      Keith Griffin, Alternative Strategies for Economic Development, 2nd. ed., Macmillan Press, London, 1999

 

3.      Adam Szirmai, Economic and Social Development: Trend, Problems, Policies, Prentice Hall, London, 1996

 

4.      Peter Hess dan Clark Roos, Economic Development: Theories, Evidence, and Policies, Dryden Press, New York, 1997

 

5.      Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya, Repositioning Asia: From Buble to Sustaiamble Economy, Anderson Consulting and John Wiley & Sons, Singapore, 2000.

 

6.      Erwidodo, ‘Modernisasi dan Penguatan Ekonomi Masyarakat Pedesaan’, dalam Hasan Barsri (penyunting), “Pembangunan Ekonomi Rakyat di Pedesaan Sebagai Strategi Penaggulangan Kemiskinan”, Bina Rena Pariwara, Jakarta, 1999 (hal. 3-40)

 

7.      Mangara Tambunan, ‘Mencari Alternatif Paket Pengembangan Ekonomi Pedesaan Baru’, dalam Hasan Barsri (penyunting), “Pembangunan Ekonomi Rakyat di Pedesaan Sebagai Strategi Penaggulangan Kemiskinan”, Bina Rena Pariwara, Jakarta, 1999 (hal. 124-139).

 

8.      Mubyarto, “Reformasi Sistem Ekonomi: Dari Kapitalisme menuju Ekonomi Kerakyatan”, Aditya Media, Yogyakarta, 1998

 

9.      St. Sularto, Ed., Menggugat Masa Lalu, Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia, Kompas, Jakarta, 2000.

 

10.  Klemens van de Sand, ‘Performance and Governance: Affecting Change through Pro-Poor Policies at Local Level’, Development and Cooperation, No. 2, March/April 2000 (pp.18-20).

 

Powered by Bullraider.com
You are here: